Sabtu, 04 April 2015

Masa Lalu (part 1)

   Pukul 19.00. putri sudah tiba di rumahnya. tadi evan mengantarnya pulang setelah merasa cukup untuk berbincang-bincang panjang bersama evan. putri terduduk di atas kasurnya. menatap kosong keluar jendela yang menampakkan pemandangan kota malam yang sangat indah. lampu-lampu kecil berwarna-warni bertebaran dimana-mana. namun, putri tak benar-benar menikmati pemandangan itu. pikirannya sedang mengembara jauh 5 tahun yang lalu saat dia dan evan masih kelas 1 SMP.

***

   pagi itu, putri dan evan tengah berjalan bersama ke sekolah. hingga tiba di sebuah taman, mereka melihat seorang anak perempuan yang tengah menangis. karena empatinya merasa terusik, putri pun mencoba mendekati anak tersebut.
   "kamu kenapa dek?"
   "balon ku kak..." jawab anak itu sambil menunjuk ke atas pohon.
   "waaah kenapa bisa sampai lepas?"
   "tadi, aku lagi asik ngejar kupu-kupu. terus aku jatuh karena ternyata ada batu di depanku. jadinya, balon yang tadi aku pegang ke lepas gitu aja kak."
   "duuh kasian." jawab putri turut sedih
   "sini, biar aku bantu ambilin." kata evan tiba-tiba.
   "eh? tapi nanti baju kamu kotor van. kan kita mau sekolah." kata putri.
   "tenang aja. paling juga cuma kotor dikit." jawab evan sambil tersenyum.
  tanpa kentara, putri memalingkan wajahnya ke arah lain. jantungnya berdegup tak menentu. dia merasakan pipinya memanas.
   "hup... nah, nih balonnya. dijaga baik-baik ya biar gak nyangkut di pohon lagi." kata evan kepada anak kecil tadi.
   "waaah makasi banyak kak." jawab si anak kecil sambil memeluk erat balonnya.
   "iya. yaudah, yuk, put, nanti keburu telat lho."
   "oke. daaaah adek kecil." jawab putri sambil melambaikan tangan ke arah anak kecil tadi yang dibalas tawa bahagia dari wajah imutnya.

***

   "eh ada yang berantem tuh di sono."
   "hah? iya? siapa?"
   "itu si mira ama fira."
   "lah iya? gara-gara apaan?"
   hah? mira sama fira berantem? tapi bukannya mereka sahabatan? batin putri.
   "van, kita tengok yuk. aku khawatir ama mira nih." kata putri pada evan. ya, mira adalah salah satu teman dekat putri. sudah tidak sedikit cerita-cerita yang mereka bagi berdua. entah itu masalah pelajaran, suka-sukaan, bahkan hingga keluarga.
   "ayo." jawab evan tanpa berpikir panjang.
   dari jauh, ternyata sudah terlihat kerumunan murid-murid di depan kelas mira. mira dan putri berbeda kelas.
   "cepet van, aku takut terjadi apa-apa ama mira."
  sesampainya di dekat kerumunan, dengan dibantu evan, putri berhasil menembus kerumunan itu dan melihat langsung kejadiannya. saat itu mira tengah memegang kasar kerah baju putra yang kemudian diikuti dengan tamparan kencang di pipi kanan putra.
   "sakit? nggak lah. karna lebih sakit hati gua!" teriak mira ke arah putra.
   kemudian terlihat fira mendekati keduanya.
  "udah, mir. maafin gu..." belom selesai fira bicara, mira langsung menjambak kuncir rambut fira.
  "maaf lo bilang? lo tuh udah gue percaya banget tau gak... gue sering cerita ke elo tentang putra dan sekarang malah elo yang ngehianatin gue... temen macem apa lo?!"
   melihat fira hanya menangis, gengnya langsung memisahkan mereka berdua lalu membawa pergi fira karna takut masalahnya akan semakin panjang. teman sekelas mira dan putri pun langsung menghambur ke arah fira dan merangkulnya masuk kelas.
  "dan buat lo, putra! pengkhianat lo!" tuding mira sebelum masuk kelas. putra hanya terlihat tak berdaya yang kemudian pergi ke arah kelas fira dengan tertunduk lesu. mungkin dia merasa menyesal atau apa, putri tak peduli.
   setelah mira tenang, putri mengambil tempat di sisi mira sambil mengelus pelan tangan mira.
   "gue sayang banget ama putra, put... tapi dia ngehianatin gue" kata mira lemas.
   "iya, gue tau mir. dan sekarang lo juga harus tau kalo ternyata dia gak baik buat elo."
   "gue udah percaya ama fira tapi dia malah ambil untung dari tiap masalah gue ama putra yang gue ceritain ke dia."
   putri hanya dapat terus mengelus pelan tangan mira yang kemudian ditariknya mira kedalam pelukannya.
   "tenang ya mir. gue tau pasti ada kejutan lain dari Allah dibalik semua ini."
   "pokoknya, put. gue benci banget sama putra dan fira! gue gak mau liat muka mereka berdua lagi! gue gak mau kenal mereka berdua juga, put!"
   "iya, iya, mir. masih ada kita-kita kok disini yang bakal nemenin elu."
   mira melepas pelukannya dengan putri.
   "thanks, put. hati gue sakit banget sekarang. gue mohon, lo harus milih pacar yang bener ya buat ngejaga elo. gue gak mau lo ngerasa kaya gini juga. apalagi yang nyakitin hati kita itu temen kita sendiri... itu..." mira terlihat ingin menangis lagi. kemudian dengan sigap putri menariknya kembali ke pelukannya dan memeluknya erat.
   "iya, mir. pasti gue bakal hati-hati." jawab putri sambil mengelus punggung mira pelan.

***

   "udah selesai, put?" tanya evan yang sedang berdiri sambil bersandar di dinding kelas mira.
   deg! jantung putri kembali berdegup tak beraturan. dia kira, evan akan pergi duluan ke kelas setelah dia masuk ke kelas mira tadi. tapi ternyata, dia justru tengah menunggunya di balkon kelas. padahal tadi putri sudah merasa sangat lama untuk menenangkan mira yang masih tidak stabil.
   "eh, udah kok." jawab putri sambil menunduk.
   "yaudah yuk, ke kelas."
   putri hanya mengangguk kemudian mengikuti evan dari belakang.
   "gimana keadaan mira?" tanya evan tanpa mengalihkan pandangannya dari arah depan.
   "eh, ya...yang pasti belom cukup tenang menurut aku. tapi, aku gak bisa nemenin dia lebih lama. padahal aku pengen banget."
   "oh, yaudah ntar pas istirahat kamu ke kelasnya aja lagi."
   "iya, rencananya juga gitu."
   "emm... mau titip jajanan pas ntar istirahat?"
  "eh, enggak usah. ntar aku bisa pergi sendiri kok."
   "bisa pergi sendiri gimana? istirahat kan cuma bentar. belom kamu jalan ke kelas mira terus ngobrol ngalor-ngidul sama dia. bisa-bisa kamu baru berdiri mau pergi eh terus bel masuk bunyi deh."
   "iya juga si..."
   "yaudah mangkanya, mau nitip gak?" tanya evan lagi. kini sambil menoleh ke arah putri.
   putri tiba-tiba salah tingkah. (maklum ya, percintaan masa SMP masih banyak banget salting yang keliatan jelas :3)
   "yaudah, tar aku nitip aja." jawab putri pelan sambil menunduk. diam-diam, senyum tipis tengah terukir di wajahnya yang cantik.
  "iya deh. emm...ngomong-ngomong itu kayanya mira marah banget ya? serem banget tadi aku ngeliatinnya. buas banget. udah kaya mau makan si fira ama putra. hahaha"
   "hush, namanya juga orang pacaran. pasti kan miranya udah sayang banget. apalagi mereka udah lebih dari setaun kan pacarannya."
   "oh iya ya? hmm jadi penasaran."
   "penasaran kenapa?"
  "kamu bakal semarah itu gak ya kalo aku di posisi putra.." jawab evan sambil melenggang masuk kelas dan meninggalkan putri yang justru masih terpaku di depan pintu kelas. menarik napas yang memburu dan menenangkan detak jantungnya yang seolah ingin meledak saat itu juga.
   maksud evan apaan sih?????? batin putri dilema.

***

Senin, 30 Maret 2015

... ._.

Tidak ada yang tau...
Mungkin. Di antara keheningan kita berdua, hati kita tengah saling berteriak. Saling meneriakkan senda gurau dan melontarkan lelucon-lelucon lucu. Kemudian menggemakan tawa yang begitu riuh yang hanya kita berdua yang dapat mendengarnya. Saling menanyakan kabar. Saling menceritakan kegiatan hari ini. Walau pada kenyataannya kita hanya tetap saling berjalan menjauh tanpa berniat membalikkan badan untuk sesaat saling melihat. Karna kita sadar... sekarang bukanlah waktu yang tepat.
Ya. Kita yang tau.

Rabu, 11 Februari 2015

Notes

   H-5 pensi sekolah putri dan evan.

   beberapa orang tampak sibuk keluar-masuk ruang osis. tentu saja. karena suatu acara yang sangat ditunggu-tunggu sudah bisa dihitung jari. tak sedikit dari panitia yang rela pulang malam karena membahas konsep acara yang dirasa masih kurang. begitu pula dengan evan. setelah pembicaraan dengan putri waktu itu, dia ingin mulai sedikit menyibukkan diri dengan kepanitiaannya saat ini. dia sudah tidak sering bolos rapat lagi seperti dulu. dia justru kini menjadi orang yang paling rajin ketika akan ada kumpul panitia. perubahan itu, tentu sangat terlihat. apalagi bagi rena. bukannya merasa senang karena acaranya didukung oleh evan, rena malah sibuk bertanya-tanya sebenernya apa yang membuat evan berubah.

   "ren?" panggil evan pada rena yang tengah terduduk di bangku taman saat jam istirahat itu.
   rena tidak merespon.
   "ren?"
   rena masih acuh. akhirnya diikutilah arah pandangan mata rena. tapi tak ada sesuatu pun yang cukup menarik untuk dilihat di arah sana. hanya ada pak amin, si tukang bakso yang memang langganan mangkal di depan sekolahnya. masa iya rena ngeliatin pak amin ampe bengong gini?, tanya evan dalam hati.
   "ren? OY!!!" teriak evan tepat di telinga rena yang tentunya langsung di tanggapi rena dengan ekspresi kaget dan kedua tangan menutup telinganya.
   "ya Allah, evan. lo ngagetin gue aja! lo gak bisa apa ngucapin misi atau manggil gue dulu sebelom teriak pas di kuping gue?! HAH?" rena emosi. sebenarnya tidak benar-benar emosi. rena hanya kaget saja karena saat tengah melamun, tiba-tiba dia manemui wajah evan yang begitu dekat dengannya. dia tidak akan pernah melupakan saat ini.
   "nggak manggil lo bilang? gue udah manggil elu berkali-kali ampe dadah-dadahin tuh muka. tapi lo nggak engeh-engeh." jelas evan dengan sedikit gemas karena di semprot begitu oleh rena.
   "oh, iya ya? emang tadi gue bengong?" tanya rena dengan tampang bloon-nya.
   "masih perlu gue jawab kah? iyalah. emang lo lagi mikirin apa si?"
   rena terdiam sejenak. dia tengah menimbang-nimbang apakah akan bertanya kepada evan atau tidak.
   "eng... sebenernya van, gue cuma pengen tau."
   "pengen tau? pengen tau tentang apaan?"
   "eng... elu... sebenernya..." belom selesai rena mengucapkan pertanyaannya, tiba-tiba handphone evan berbunyi nyaring.
   "eh, sorry, ren. gue angkat telepon dulu ya."
   "oke" jawab rena lemas.
   evan menjauh dari bangku tersebut dan menerima teleponnya tak lama kemudian. setelah sedikit mengangguk dan menjawab singkat, evan menutup teleponnya dan kembali ke bangku taman.
   "eh, ren. sorry, nih. putri tadi nelpon gue. ada perlu katanya. jadi gue harus nemuin dia dulu. gapapa kan? nanyanya bisa dilanjut nanti deh."
   rena mendengus tak kentara. "oh, putri. oke, gapapa. gue bisa tanyain ntar laen kali." kata rena dengan senyum tipis penuh kepalsuan.
   "thanks. kalo gitu gue duluan ya. bye!"
   "bye."
   sendiri lagi. dan itu berarti, bengong lagi.

***

   putri tengah berdiri di depan kelas sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. dia terlihat sendiri saat itu. tentu saja, pangerannya tengah sibuk mengurus tim basket sekolah mereka untuk melanjutkan pertandingan kemarin yang berhasil menyabet nomor 1. tak lama kemudian, dari arah kanan evan datang. sambil melempar senyuman manisnya, putri menyapa evan.
  "hai, evan. lama gak jumpaaa" seru putri girang seolah tengah menumpahkan rasa rindunya pada sahabatnya itu.
   "ck, kalo maksud lo 3 jam itu waktu yang lama. well, seneng di kangenin sama elu." balas evan dengan senyuman sok cool yang dibuat-buat.
   "hiuuuh, muka lu bikin gue eneg deh."
   "yeeeh ngeledek lagi. ada apaan nelpon gue."
   "sekarang kan lo udah sibuk banget tuh ama acara lu. nah, mangkanya istirahat ini gue pengen ngajak lu makan bareng di kantin. yuk, udah lama banget kita gak makan bareng."
   evan tepana. "oh, boleh. tapi jangan lama-lama ya. kayanya gue bakal balik ke ruang osis lagi secepatnya." kata evan sok acuh padahal hatinya tengah terbang menuju angkasa. melambung tinggi melewati galaksi bima sakti tapi cukup gengsi buat ngakuinnya. :p
   "oke." jawab putri sambil tersenyum senang karena bisa makan bersama evan lagi setelah lima hari ini jarang bersama.

***

   kantin yang dibanjiri murid-murid lapar.
   "lo mau beli apa?"
   "eh, apa aja deh. seterah lu. gue ngikut."
   "oke, bakso mau ya." putri segera melenggang ke gerobak bakso pak amin dan memesan dua porsi untuk dirinya dan evan.
   "eh....put. si asad kemana?" tanya evan setegar mungkin padahal hatinya sangat senang karena laki-laki itu tidak ada.
   "oh, evan lagi ngumpul sama anak basket. kan, tim sekolah kita menang jadinya dia yang koordinir buat pertandingan selanjutnya deh." jawab putri dengan wajah yang berseri-seri.
   "oh. lo pasti bahagia banget ya pacaran sama asad."
   "hehe. iya, van. gue bersyukur banget bisa dapet kesempatan jadi pacar dia. emm lo kapan nih mau nyusul punya pacar juga? gak bosen apa jomblo terus? haha" ledek putri dengan kejamnya.
   gue maunya elo...
   "ah, enggak. belom nemu yang pas aja. lagian gue sekarang mau fokus ke acara dulu. kan udah H-5."
   "oiya, btw buat pensi nanti gue harus pake baju apa nih?"
   "emm, gue saranin elu pake baju pink yang waktu itu lo pake pas ultah gue. itu cocok banget ama tema pensi taun ini. lo pasti eye-catching banget ntar." jawab evan sungguh-sungguh.
   "oh, gitu ya. yaudah deh, tar gue coba cari lagi tuh baju. terus kalo gue yang pink itu, kira-kira asad cocoknya apa ya?" tanya putri polos.
   "oh. emm apa aja deh. kayanya ama baju itu mah, gaya apa aja cocok deh."
   "ohh gitu. yaudah nanti gue bilang asad deh. makasi ya sarannya."
   "ya." jawab evan pelan sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.

***

   "oya, put. kebetulan nyokap gue masak di rumah lho hari ini. lo mau nyoba mampir gak?" tanya evan.
   "iya? waah udah lama banget gue gak ketemu tante mira. mau deh mau. tar gue bilang asad dulu ya biar gue baliknya bareng elo."
   "oke."
   putri pun menjauh kemudian mengeluarkan ponselnya dan menelepon asad.
perbincangan singkat pun berlalu dan putri kembali ke samping evan. "yuk, kita berangkat!!!"

***

   evan dan putri tiba dirumah evan. tak lama tante mira keluar dari kamar dan menyambut kedatangan putri. setelah perbicangan singkat-heboh antara dua perempuan itu, tante mira pun menyuruh putri untuk menunggu di kamar evan karena tante mira akan mempersiapkan hidangan istimewanya.
   "huu... heboh amat si ngobrol berdua aja." semprot evan saat putri tiba di kamarnya.
  "haha maklumlah van. kan gue udah lama gak ketemu nyokap lu. haaaaaa..." putri merebahkan tubuhnya di atas sofa di depan televisi kamar evan. "kamar lo masih sama kaya dulu ya." kata putri sambil tersenyum.
   melihat tingkah putri yang tersenyum manis begitu, evan jadi teringat masa lalu-masa lalunya bersama putri. bagaimana seringnya cewek itu memasuki kamar pribadinya dan begitu pula sebaliknya. bagaimana biasanya dia yang memberantaki seisi ruang kamar putri lalu putri yang merapikannya, tetapi tidak sebaliknya. hihi...
   "iyalah. emang mau lo kamer gue diapain? dibolongin temboknya biar keliatan beda?" seloroh evan yang tentu membuat putri ngakak mendengarnya. "yaudah, kalo gitu gue ambilin minum dulu ya. lo pasti mau es jeruk kan?" tanya evan yang langsung dibalas senyuman oleh putri. karena dulu saat masih suka bermain kerumahnya, putri selalu menginginkan es jeruk untuk minumnya.
   evan keluar kamar meninggalkan putri sendirian. karena hampir merasa bosan, putri pun beranjak dari sofanya dan berkeliling ke seluruh penjuru kamar evan.
   pertama, tempat tidur. tempat tidur itu masih rapi. tentu saja. evan baru pulang dan baru sempat duduk di sisinya tanpa memberantakinya. coba saja kalau sudah ia sentuh lebih jauh. pasti seperti kapal pecah. kedua, kumpulan foto di dinding kamar evan. entah kenapa, tapi sepertinya kumpulan foto itu belum bertambah lagi sejak terakhir putri melihatnya... 3 tahun lalu. berlanjut ke cermin. tidak aneh. hanya perawatan wajah biasa bagi laki-laki. lalu meja belajar. tumpukan buku tentu sudah berubah menjadi kumpulan buku kelas 2 SMA. tempat pensil pun hanya sebuah kotak polos berwarna coklat disudut meja. beberapa foto dirinya dan evan, foto evan sendiri, dan sebuah.....note. "eh, apaan nih? dari...rena?"
   putri membacanya dalam diam.

***

   "ini dia. es jeruk pesanan tuan putri sudah siappp." teriak evan dari arah pintu yang tentunya dapat didengar oleh seluruh penjuru kamar.
   putri terlihat sedang melihat dunia luar lewat balkon. didekatinya putri.
   "put, ini es lu." putri tidak merespon. "put..."
   "eh?" ekspresi sedih dan kaget bercampur di wajah putri saat ini.
   "lo kenapa, put? sakit?"
   "eh, enggak kok. gue cuma pengen nyari udara seger aja. hehe."
   "oh gitu. nih es jeruk lo. spesial lho gue yang buatin." pamer evan dengan senyum mengembang diwajahnya.
   "wuaaaah makasi, van." balas putri dengan senyuman lebar yang tulus dan menyenangkan.
tetaplah kaya gini, put. tetaplah elu disamping gue tanpa ada dia atau mereka. cukup begini terus sampe waktu yang memisahkan kitaaa...

 

Senin, 02 Februari 2015

DUA

Dua
Aku adalah dua
Aku suka dua
Karena aku punya serba dua
Dua mata
Dua telinga
Dua kaki
Dan....dua tangan
Maka dari itu aku suka angka dua
Tapi
Entah kenapa dua itu kini menyakitiku
Padahal aku sudah menyukainya sepenuh hati :(
Dua
Iya, aku terdiri dari dua
Suatu angka yang aku suka!
Tapi ternyata, dua inilah yang tak jarang menorehkan luka
Luka dihati
Iya, dua
Dua yang sakit kala didengar
Dua yang membuat ku mendengus saat mendengar
Dua yang mengenalkan ku pada...perbandingan
Dua yang memperkenalkan aku dengan siapa yang lebih baik dan siapa yang lebih buruk
Dua yang menuntut aku dan mereka harus terlihat sama
Dua...
Dan kini aku terjebak didalamnya
Aku ingin memberontak
Tapi seolah sang empunya lilin sudah mendapatkan lampunya
Lalu aku ditutup dalam mangkok
Hingga mati tak ternilai
Aku jadi tak suka!!
Aku tak suka untuk terlihat sama
Aku tak ingin dibandingkan dengan siapa
Kamu, dia, mereka
Ah, dua
Aku benci angka dua

Jumat, 30 Januari 2015

"Karena sesuatu yang tidak terlihat lebih susah untuk dihargai."

"Karena sesuatu yang tidak terlihat lebih susah untuk dihargai." - lsy :3

kata-kata diatas adalah quote yang gue buat sendiri beberapa hari yang lalu haha keren kan B) ya tapi gak tau juga si kalo ternyata diluar sana udah ada yang pernah nyetusin--" tapi intinya, gue baru ngalamin itu.

pengalaman adalah guru terbaik. karena gak pernah ngasih PR kah? tentu bukan. atau karena dia gak pernah nuntut kita buat bangun pagi dan berseragam lengkap tiap harinya? tentu juga bukan. lalu apa alasannya? ....... silahkan tanya dan jawab dalam hati kalian masing-masing. :3

mata, merupakan salah satu anugrah Allah yang diberikan kepada manusia yang sudah sangat sepatutnya disyukuri oleh si empunya. hati, bagaimana kita masih enggan bersyukur? karena hanya dengan hati itu lah kita bisa merasakan manis dan bahagia nya cinta orang tua kita, cinta teman-teman kita, cinta kakak-adik kita, cinta si dia.....*plak* oke, sorry-.-v dan juga cinta Allah yang tdak ada duanya. lalu otak, dimana kita bisa memikirkan, mengingat, menganalisis, membayangkan banyak hal yang mungkin turut bersumbangsih dalam kesuksesan dalam hidup kita saat ini.

dengan otak dan hati, kita diajarkan untuk memahami apa arti dari keseimbangan. keseimbangan dari kemampuan logika dan kekuatan perasaan. namun apa daya. sebagai manusia yang tidak tanpa cela, kadang kita melupakan apa makna dari keseimbangan itu. terkadang kita hanya menggunakan logika kita dan mengabaikan bagaimana perasaan lawan bicara kita. atau bisa juga sebaliknya. saat kita terlalu merasakan hingga tidak sadar bahwa kita dicampakkan dan melukai diri kita sendiri.

saat kita melihat seseorang melakukan sebuah kebaikan, maka kesan yang tercatat dalam benak kita adalah "wah, dia baik ya" dan begitu juga sebaliknya. jika ada orang yang terlihat malas dan hanya duduk saat yang lain tengah berpeluh ria, kesan yang tercatat adalah "ih, males banget sih tu orang". see?

tapi, apakah kita tau? apakah kita pernah berpikir? apakah kita pernah membayangkan bahwa mungkin saja apa yang sudah tercapai saat ini sebagian besar adalah berkat bantuan dia? apakah kita pernah berpikir bahwa apa yang kita lihat sekarang ini hanyalah hati-hati biasa yang menutupi hati-hati yang tulus? hati yang tulus yang justru enggan menunjukkan kebaikannya karena enggan di puji? karena enggan di perbincangkan kebaikannya? karena enggan dikenal di kehidupan dunia yang penuh kefanaan ini? karena dia hanya mengharapkan apa yang kekal. karena dia hanya mengharapkan apa yang dijanjikan Tuhannya. karena dia hanya mengharapkan kesederhanaan dimata-mata manusia tetapi berharap melakukan sesuatu yang begitu besar di mata Tuhannya? di mata Kekasih sejatinya?

ah, seharusnya aku tau bahwa tiada manusia tanpa cela. seharusnya aku ingat jika manusia terlahir dengan nafsu dalam dirinya. seharunya aku ingat jika kita hanya tercipta dari tanah. lalu kenapa? apakah itu yang mendorong kita untuk selalu menuntut "terlihat" didepan orang lain? apakah itu yang mendorong kita untuk selalu dikenal orang lain? diketahui orang lain? sampai dipuja-puja dan terus di elu-elukan dimana pun dan kapan pun?

.....................
 

Sabtu, 24 Januari 2015

Malam Sabtu (Bukan Putri-Evan-Asad)

uhuk, yey :D
hahaha cerita putri, asad, sama evannya di off dulu ya. soalnya sekarang gue mau "sedikit" mencurahkan isi hati gue nih hehe

bismillah...

setiap gue ngeliat dia, ga sengaja papasan sama dia, ngomong sama dia, atau melihat sesuatu yang memiliki hubungan sama dia, gue ngerasa...aneh. iya, aneh. saking anehnya gue ampe bingung jelasinnya gimana :v tapi ini serius!
yaaa pasti kalian pernah denger kan kalo kita ketemu orang yang di sukai akan terasa seperti ada seekor kupu-kupu yang lagi berterbangan di dalam perut kalian? ya, kurang lebih seperti itu.
cuma ngeliat doang padahal...tapi rasa itu selalu muncul. keinginan buat ngajak ngobrol pun gak mustahil muncul. tapi alhamdulillahnya, hijab + iman ini yang membentengi gue buat gak menyalurkan nafsu berwujud rasa penasaran itu secepatnya :')
gimana gue ngerasa pengen ngomong walaupun itu hal yang gak penting. ngebahas panjang-lebar sesuatu yang mungkin sebenernya gak perlu. saling bagi joke, dan lain-lain. dan kalian tau kan rasanya nahan perasaan itu tuh.......ugh. gak kuat gue buat ngejelasinnya-_-
dan tujuan gue nulis itu disini...pastinya bukan buat cari perhatian atau cari-cari simpati. tapi, gue cuma butuh tempat buat mencurahkan isi hati gue setelah Allah tentunya. "terus kenapa harus di blog? kan bisa dibaca orang-orang?" ya, gue juga tau keles-_- tapi tenang...blog gue sepi pengunjung kok paling juga yang baca cuma gue :D haha
*next*
gue gak mau terlalu banyak cerita ke orang. karna takutnya rasa ini malah makin gak terbendung (eak._.). LOL. ini bukan lebay tapi ya-_- ini beneran! terkadang beberapa respon seseorang bisa berpengaruh besar sama perasaan orang yang cerita tadi. selain itu, kalo gue cerita ke orang, secara gak langsung mindset gue makin yakin kalo gue itu ada rasa sama dia yang gue ceritain tadi. padahal, bisa aja kan rasa itu muncul kebetulan. maksudnya, ya kaya kebawa suasana waktu itu aja. jadi gue ngerasa kepedean (?) nge-fly (?) suka (?) dan sebagainya.
but sure...gue selalu bertekad buat ngilangin rasa ini:( tapi belom bisaaa--" kadang berhasil. tapi kalo udah ketemu orang nya lagi, rasa itu balik lagi. jadi berharap pengen ngobrol ama dia... becanda ama dia... bahas sesuatu ama dia..... *hushmakinngaconihharapannya-,,,-
hahaha iya iyaaa sorry :D tapi tenang...alhamdulillahnya harapan-harapan gue itu masih sebatas ngobrol doang kok. gak lebih. jangankan buat berduaan. buat bersentuhan aja udah gak mau ngebayangin :v ya intinya, insyaAllah angan-angan gue itu masih sebatas wajar......menurut gue :)
gue...juga selalu kok cerita ke Allah kalo emang udah di ambang batas gue pengen nyurahin perasaan itu. entah itu kangen, suka, ngarep...dan sebagainya :p haha gue jadi inget, dulu gue pernah deket ama seseorang. dekeeeeet banget. terus, kita jadi berjarak semenjak gue masuk IC. gak mustahil juga si. karna salah satu resiko sekolah asrama yaa komunikasi sama orang luarnya juga jadi terbatas. nah terus, saking kangen nya (iya, gue beneran kangen kangen kangen banget ama dia ampe gak kuat lagi nahannya :'v) gue curhat ke Allah :3 nanyain kabar dia, dimana dia sekarang, dan harapan-harapan gue kalo suatu hari nanti gue sama dia bakal ketemu :) hehe aamiin... mungkin agak alay ya--" tapi emang itu yang terjadi kok :'v perasaan ini kan salah satu nikmat dari Allah. maka, sebagai bentuk rasa syukurnya, ada baiknya kita menjaga biar perasaan ini tidak terlalu besar sampe ngalahin rasa cinta kita ke Allah :3 mungkin pada kenyataannya gue belom mampu bener-bener mencintai Allah, karena sulit baget vroh... tapi gue terus berusaha. lurusin niat, dan pastinya terus berdoa sama Allah buat dikasih petunjuk + ridho-Nya.
terakhir, gue gak tau ini perasaan tulus atau cuma kebawa suasana aja. tapi insyaAllah gue bakal jaga perasaan ini. gue jaga biar gak keceplosan sekarang. karena gue yakin, kalo itu bukan perasaan yang tulus, lama kelamaan pasti bakal hilang dimakan waktu :v dan itu berarti kita udah lulus dari salah satu cobaan hati yang pastinya ga sembarang orang bisa lewatin. yap, bismillah~ :))

ya, sekian curhatnya :D maap kalo lebay atau gaje X| belom jago rangkai kata + nyampain pendapat :D jadi ini sekalian belajar juga hehe

Selasa, 20 Januari 2015

Masih Merupakan Awal

   keesokan paginya.
  "hai evan." sapa putri dengan ceria. kebetulan pagi ini mereka tidak berangkat bersama lagi.
   "oh. hai."
  "eh? lu...kenapa? apa lu sakit?" tanya putri khawatir sambil memegang kening evan.
   evan langsung menjauhkan tangan putri dari keningnya sambil tersenyum pahit. "aku gak apa-apa kok. ada apa? muka kamu kok cerah banget kayanya?"
   "hehe keliatan banget ya?" tanya putri malu-malu dengan wajah yang sontak berubah merah.
   "emm...emang ada apa sih?" evan masih berpura-pura tidak tau.
   "eng...evan. kemaren gue..."
   "putri!"
   putri dan evan menengok ke sumber suara di belakang mereka. dan ternyata itu adalah suara... asad.
   "eh asad. kenapa?" tanya putri sambil tersenyum kikuk tapi menunduk.
   "gapapa hehe lagi luang gak? ikut aku yuk."
   "eh? kemana?"
   "ada deh. mangkanya ikut aku."
  putri terdiam sebentar. meskipun sudah resmi menjadi pacar asad, putri tidak mau menyakiti evan dengan meninggalkannya begitu saja. apalagi, evan belum tau kalau dia dan asad sudah berpacaran.
   mengetahui putri yang tidak kunjung merespon, evan langsung membalikkan badan sambil berkata, "pergi saja put. aku ada di perpus jika kau membutuhkanku." dan evan langsung pergi tanpa menengokkan kepalanya lagi ke arah putri.
   putri bingung. tidak biasanya evan bersikap seperti itu. jika sudah bertemu asad, evan biasanya langsung mengerti karena dia tau bahwa putri menyukai asad. tapi untuk hari ini, itu terlihat cukup ganjil dimata putri.
   "bagaimana tuan putri? sudah siap mengikuti hambamu ini?"
  selorohan asad membuat kesadaran putri kembali. wajahnya sontak langsung memerah. sambil mengulum senyum malu-malu putri pun mengangguk dan membiarkan asad menarik pelan tangan kanannya. dan, putri tak akan melupakan kebahagiaan ini.

***

   perpustakaan.
  perpustakaan ini merupakan salah satu perpustakaan sekolah terbesar di Jakarta. peletakkan bukunya yang memenuhi tembok dan bilik-bilik yang dirangkai sedemikian rupa sehingga menciptakan kesan luas yang alami membuat siswa-siswi nya tidak segan untuk menghabiskan waktu didalamnya. dari mulai yang ingin mengerjakan tugas, bersantai, membaca koran harian, atau googling. intinya, perpustakaan ini cukup sempurna.
  namun tidak hanya kesenangan. ternyata ada juga seseorang yang menjadikan perpustakaan sebagai tempat pelariannya ketika ada masalah. dan dia adalah evan. kini dia tengah terduduk di bilik pojok ruang baca. memandang secara kosong buku yang ada di depannya. kejadiaan semalam dan bagaimana ekspresi putri tadi serta ajakan asad yang terlihat tidak sungkan membuat evan jengah berada di sini. dia merasa ingin membolos. tapi, karena teringat jika suatu waktu putri datang ke sini mencarinya untuk meminta bantuannya... ah aku lupa dia sudah punya asad...
   evan lalu hendak melangkah keluar perpustakaan ketika tiba-tiba dia melihat rena di antara buku-buku seni. karena masih merasa tidak enak telah membolos di rapat yang kedua, dia pun menghampiri rena. ya, evan membolos di rapat kedua ini setelah begitu terpukul karena mengetahui apa yang telah terjadi antara putri dan asad. oh, bukan mengetahui, lebih tepatnya...melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri. setelah itu, dia benar-benar tidak memedulikan lingkungan sekitarnya dan hanya pergi mengikuti arah roda sepeda motor kesayangannya itu membawanya.
    "ren..." suara evan pelan. entah karena itu perpustakaan jadi dia tidak mau membuat pengunjung lain terganggu atau memang karena dia sudah tidak bersemangat untuk melanjutkan hari ini.
    "eh, evan. ada apa?" jawab rena pelan juga.
   melihat evan yang tidak kunjung menjawab pertanyaannya dan justru hanya menatap kosong dirinya, rena pun langsung mengajak evan keluar dari perpustakaan dengan isyarat tangannya.
   menyadari itu, evan hanya mengekori rena yang kini telah membawanya ke taman sekolah.
   "kenapa, van? lo kaya kurang sehat gitu. apa lo sakit?" tanya rena khawatir.
  "gue...baik-baik aja kok." sudut bibir evan terangkat sedikit. "sorry gua bolos rapat lagi. waktu itu gue..."
   "van? ada apa?" tuntut rena kini sambil menatap langsung ke kedua mata evan. seolah mengatakan bahwa dia bersedia untuk membantunya apa pun yang terjadi.
   "aaaaaaaaarrrrrrgggghhhhh" geram evan cukup keras dan membuat rena kaget. tapi rena paham, mungkin sekarang evan tengah dalam keadaan yang tidak bagus. bisa karena nilai, pertemanan, dengan guru, atau mungkin dengan putri...
   "lo boleh cerita apa aja ke gue, van. kalo emang itu bikin lo mendingan."
  kini evan hanya memandangnya lagi. tatapan kosong. ugh...rena benci tatapan itu. seolah berkata bahwa kau-tahu-apa-tentang-aku.
   "gue..."
   rena menunggu. sungguh, ini untuk pertama kalinya evan akan bercerita sesuatu padanya. berbagi masalahnya...
   "rena!"
   dan...rena menghembuskan napas kesal.
   "siapa si?!" semprot rena kepada orang yang baru saja memanggilnya tadi.
   "weeet nyantai ren. gue cuma mau ngasih tau kalo lo dicariin sama pak karso. kayanya sih tentang pensi sekolah 10 hari lagi itu. dan kayanya penting. cepet datengin gih. gaenak kan kalo ngebiarin beliau nunggu." kata rico.
   evan hanya terdiam. seolah sebelumnya memang tidak terjadi apa-apa. rena mencoba membaca ekspresi tersebut. namun evan seperti memang menutupi semuanya. semua keresahan di wajahnya tadi.
   "emm...oke. thanks ya ric. sorry juga tadi ngebentak hehe." rena pasang tablo.
   "yeah, nyantai aja." kata rico sambil tersenyum tersipu. wait? tersipu. ckck

***

   setengah jam berlalu.
  oke, urusan dengan pak karso memang tidak selalu mudah. pasti dibutuhkan skill ngeles dan alibi tingkat dewa untuk membuat beliau percaya kepada kalian. maka dari itu, pertemuan rena dan pak karso tersebut sudah cukup menyita waktu rena yang seharusnya dia habiskan bersama evan. oh ya...dimana ya evan? batin rena.
  rena mencoba melihat ke perpustakaan, tetapi dia tidak menemukannya. mungkin taman? sama. tidak ada dia disana. kelas! ya, itu adalah tempat terakhir evan untuk singgah. tapi, benar saja. apa yang rena takutkan benar terjadi. sekarang ini evan sudah bersama putri. duduk bersama di dua bangku yang saling bersebelahan. terlihat sedang membicarakan sesuatu. yang cewe berbunga-bunga tetapi yang cowo tak terlihat ekspresinya karena membelakangi rena. hhh...evan. apa lo sekarang lagi menumpahkan semua uneg-uneg yang mau lo ceritain ke gue sama putri dan ngelupain gue?

***

   "gitu van. gimana menurut kamu?"
   "put, kamu udah dewasa. aku tau pasti kamu udah pertimbangin baik-baik semua hal yang kamu pilih. jadi, jalanin aja apa yang udah kamu pilih. tapi, tetep jaga diri juga ya." kata evan tulus sambil membelai pelan rambut putri. entah kenapa. tapi dia ingin sekali membelai rambut itu... dan memiliki sang empunya. tapi apa daya. gadis yang tengah dia belai rambutnya tersebut baru saja menceritakan kisah cinta romantis bersama laki-laki yang disukainya.
   "makasi van. aku gatau kamu bisa sebijak itu." kata putri lega sambil tersenyum pada evan.
    manis...
   "nah, karna elo udah jadian. berarti lo harus traktir gue!"
   "ha? traktir apaan?"
   "pj! pajak jadian. haha oke? warung bu susi pulang sekolah. daaah putri jelek. weee..." evan meninggalkan putri yang masih memasang wajah polos dan tak mengerti apa yang baru saja evan katakan. tapi, setelah pungung evan menghilang di belokan lorong tersebut putri baru sadar dan mengerti apa yang evan maksud.
   "van...gue gak ada duit..." kata putri pelan yang lebih tepatnya dia tujukan untuk dirinya sendiri.
  "evaaaaaaaaaaaan dengerin gue duluuuuuuuuu............" putri pun berlari mengejar evan untuk mengatakan kalo dia tidak punya uang untuk menraktir dia. jangankan bu susi, untuk membeli air mineral saja dia sepertinya tidak bisa-_-

   namun, tanpa disadari. tepatnya dibalik pohon rindang tempat evan dan putri berbincang barusan. seseorang sudah berdiri disana cukup lama. ya, cukup lama untuk mendengar semua pembicaraan mereka. dan, dia merasa cukup bahagia mengetahui semuanya. seutas senyum lebar terus menggantung di wajahnya. dipadukan dengan tampang yang cukup ganteng dan keren, penampilannya sudah mirip artis ngetop masa kini. dan pemiliki senyum lebar itu adalah, asad.

***