Selasa, 20 Januari 2015

Masih Merupakan Awal

   keesokan paginya.
  "hai evan." sapa putri dengan ceria. kebetulan pagi ini mereka tidak berangkat bersama lagi.
   "oh. hai."
  "eh? lu...kenapa? apa lu sakit?" tanya putri khawatir sambil memegang kening evan.
   evan langsung menjauhkan tangan putri dari keningnya sambil tersenyum pahit. "aku gak apa-apa kok. ada apa? muka kamu kok cerah banget kayanya?"
   "hehe keliatan banget ya?" tanya putri malu-malu dengan wajah yang sontak berubah merah.
   "emm...emang ada apa sih?" evan masih berpura-pura tidak tau.
   "eng...evan. kemaren gue..."
   "putri!"
   putri dan evan menengok ke sumber suara di belakang mereka. dan ternyata itu adalah suara... asad.
   "eh asad. kenapa?" tanya putri sambil tersenyum kikuk tapi menunduk.
   "gapapa hehe lagi luang gak? ikut aku yuk."
   "eh? kemana?"
   "ada deh. mangkanya ikut aku."
  putri terdiam sebentar. meskipun sudah resmi menjadi pacar asad, putri tidak mau menyakiti evan dengan meninggalkannya begitu saja. apalagi, evan belum tau kalau dia dan asad sudah berpacaran.
   mengetahui putri yang tidak kunjung merespon, evan langsung membalikkan badan sambil berkata, "pergi saja put. aku ada di perpus jika kau membutuhkanku." dan evan langsung pergi tanpa menengokkan kepalanya lagi ke arah putri.
   putri bingung. tidak biasanya evan bersikap seperti itu. jika sudah bertemu asad, evan biasanya langsung mengerti karena dia tau bahwa putri menyukai asad. tapi untuk hari ini, itu terlihat cukup ganjil dimata putri.
   "bagaimana tuan putri? sudah siap mengikuti hambamu ini?"
  selorohan asad membuat kesadaran putri kembali. wajahnya sontak langsung memerah. sambil mengulum senyum malu-malu putri pun mengangguk dan membiarkan asad menarik pelan tangan kanannya. dan, putri tak akan melupakan kebahagiaan ini.

***

   perpustakaan.
  perpustakaan ini merupakan salah satu perpustakaan sekolah terbesar di Jakarta. peletakkan bukunya yang memenuhi tembok dan bilik-bilik yang dirangkai sedemikian rupa sehingga menciptakan kesan luas yang alami membuat siswa-siswi nya tidak segan untuk menghabiskan waktu didalamnya. dari mulai yang ingin mengerjakan tugas, bersantai, membaca koran harian, atau googling. intinya, perpustakaan ini cukup sempurna.
  namun tidak hanya kesenangan. ternyata ada juga seseorang yang menjadikan perpustakaan sebagai tempat pelariannya ketika ada masalah. dan dia adalah evan. kini dia tengah terduduk di bilik pojok ruang baca. memandang secara kosong buku yang ada di depannya. kejadiaan semalam dan bagaimana ekspresi putri tadi serta ajakan asad yang terlihat tidak sungkan membuat evan jengah berada di sini. dia merasa ingin membolos. tapi, karena teringat jika suatu waktu putri datang ke sini mencarinya untuk meminta bantuannya... ah aku lupa dia sudah punya asad...
   evan lalu hendak melangkah keluar perpustakaan ketika tiba-tiba dia melihat rena di antara buku-buku seni. karena masih merasa tidak enak telah membolos di rapat yang kedua, dia pun menghampiri rena. ya, evan membolos di rapat kedua ini setelah begitu terpukul karena mengetahui apa yang telah terjadi antara putri dan asad. oh, bukan mengetahui, lebih tepatnya...melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri. setelah itu, dia benar-benar tidak memedulikan lingkungan sekitarnya dan hanya pergi mengikuti arah roda sepeda motor kesayangannya itu membawanya.
    "ren..." suara evan pelan. entah karena itu perpustakaan jadi dia tidak mau membuat pengunjung lain terganggu atau memang karena dia sudah tidak bersemangat untuk melanjutkan hari ini.
    "eh, evan. ada apa?" jawab rena pelan juga.
   melihat evan yang tidak kunjung menjawab pertanyaannya dan justru hanya menatap kosong dirinya, rena pun langsung mengajak evan keluar dari perpustakaan dengan isyarat tangannya.
   menyadari itu, evan hanya mengekori rena yang kini telah membawanya ke taman sekolah.
   "kenapa, van? lo kaya kurang sehat gitu. apa lo sakit?" tanya rena khawatir.
  "gue...baik-baik aja kok." sudut bibir evan terangkat sedikit. "sorry gua bolos rapat lagi. waktu itu gue..."
   "van? ada apa?" tuntut rena kini sambil menatap langsung ke kedua mata evan. seolah mengatakan bahwa dia bersedia untuk membantunya apa pun yang terjadi.
   "aaaaaaaaarrrrrrgggghhhhh" geram evan cukup keras dan membuat rena kaget. tapi rena paham, mungkin sekarang evan tengah dalam keadaan yang tidak bagus. bisa karena nilai, pertemanan, dengan guru, atau mungkin dengan putri...
   "lo boleh cerita apa aja ke gue, van. kalo emang itu bikin lo mendingan."
  kini evan hanya memandangnya lagi. tatapan kosong. ugh...rena benci tatapan itu. seolah berkata bahwa kau-tahu-apa-tentang-aku.
   "gue..."
   rena menunggu. sungguh, ini untuk pertama kalinya evan akan bercerita sesuatu padanya. berbagi masalahnya...
   "rena!"
   dan...rena menghembuskan napas kesal.
   "siapa si?!" semprot rena kepada orang yang baru saja memanggilnya tadi.
   "weeet nyantai ren. gue cuma mau ngasih tau kalo lo dicariin sama pak karso. kayanya sih tentang pensi sekolah 10 hari lagi itu. dan kayanya penting. cepet datengin gih. gaenak kan kalo ngebiarin beliau nunggu." kata rico.
   evan hanya terdiam. seolah sebelumnya memang tidak terjadi apa-apa. rena mencoba membaca ekspresi tersebut. namun evan seperti memang menutupi semuanya. semua keresahan di wajahnya tadi.
   "emm...oke. thanks ya ric. sorry juga tadi ngebentak hehe." rena pasang tablo.
   "yeah, nyantai aja." kata rico sambil tersenyum tersipu. wait? tersipu. ckck

***

   setengah jam berlalu.
  oke, urusan dengan pak karso memang tidak selalu mudah. pasti dibutuhkan skill ngeles dan alibi tingkat dewa untuk membuat beliau percaya kepada kalian. maka dari itu, pertemuan rena dan pak karso tersebut sudah cukup menyita waktu rena yang seharusnya dia habiskan bersama evan. oh ya...dimana ya evan? batin rena.
  rena mencoba melihat ke perpustakaan, tetapi dia tidak menemukannya. mungkin taman? sama. tidak ada dia disana. kelas! ya, itu adalah tempat terakhir evan untuk singgah. tapi, benar saja. apa yang rena takutkan benar terjadi. sekarang ini evan sudah bersama putri. duduk bersama di dua bangku yang saling bersebelahan. terlihat sedang membicarakan sesuatu. yang cewe berbunga-bunga tetapi yang cowo tak terlihat ekspresinya karena membelakangi rena. hhh...evan. apa lo sekarang lagi menumpahkan semua uneg-uneg yang mau lo ceritain ke gue sama putri dan ngelupain gue?

***

   "gitu van. gimana menurut kamu?"
   "put, kamu udah dewasa. aku tau pasti kamu udah pertimbangin baik-baik semua hal yang kamu pilih. jadi, jalanin aja apa yang udah kamu pilih. tapi, tetep jaga diri juga ya." kata evan tulus sambil membelai pelan rambut putri. entah kenapa. tapi dia ingin sekali membelai rambut itu... dan memiliki sang empunya. tapi apa daya. gadis yang tengah dia belai rambutnya tersebut baru saja menceritakan kisah cinta romantis bersama laki-laki yang disukainya.
   "makasi van. aku gatau kamu bisa sebijak itu." kata putri lega sambil tersenyum pada evan.
    manis...
   "nah, karna elo udah jadian. berarti lo harus traktir gue!"
   "ha? traktir apaan?"
   "pj! pajak jadian. haha oke? warung bu susi pulang sekolah. daaah putri jelek. weee..." evan meninggalkan putri yang masih memasang wajah polos dan tak mengerti apa yang baru saja evan katakan. tapi, setelah pungung evan menghilang di belokan lorong tersebut putri baru sadar dan mengerti apa yang evan maksud.
   "van...gue gak ada duit..." kata putri pelan yang lebih tepatnya dia tujukan untuk dirinya sendiri.
  "evaaaaaaaaaaaan dengerin gue duluuuuuuuuu............" putri pun berlari mengejar evan untuk mengatakan kalo dia tidak punya uang untuk menraktir dia. jangankan bu susi, untuk membeli air mineral saja dia sepertinya tidak bisa-_-

   namun, tanpa disadari. tepatnya dibalik pohon rindang tempat evan dan putri berbincang barusan. seseorang sudah berdiri disana cukup lama. ya, cukup lama untuk mendengar semua pembicaraan mereka. dan, dia merasa cukup bahagia mengetahui semuanya. seutas senyum lebar terus menggantung di wajahnya. dipadukan dengan tampang yang cukup ganteng dan keren, penampilannya sudah mirip artis ngetop masa kini. dan pemiliki senyum lebar itu adalah, asad.

***

Jumat, 16 Januari 2015

Malam Bahagia Bagi Putri

   Malam ini sudah menunjukkan pukul 21.00. namun, si cantik putri belum juga mampu memejamkan matanya. wajahnya terus saja menggambarkan rona bahagia. kejadian sore tadi. semua kejadian itu membuat dia semakin merasa bahagia dan berharap matahari untuk tidak tenggelam pada sore ini. tetap menggantung di senjanya. tetap menjadi saksi bisu diantara keduanya.
   ya, sore tadi putri pulang bersama asad. gaya menyetir asad yang santai dan tidak sembrono itu membuat putri menikmati setiap detik bersamanya. asad pun seolah-olah tidak pernah kehabisan bahan obrolan pada saat itu. jika tidak membuat putri tertawa, ada saja kata-katanya yang membuat dia sampai harus berfikir keras. seperti sore tadi saat keduanya telah sampai di warung bu susi dan menunggu pesanan mereka siap.
  "oiya, put, kamu gak ngerasa kesepian apa tiba-tiba kehilangan sosok evan gini?" tanya asad tiba-tiba.
   "eh? maksud kamu?"
   "ya kan, tiap harinya kamu sama evan udah kaya amplop ama perangko. nempeeel terus. tapi sekarang dia jadi panitia acara dan sibuk rapat sana-sini. apa kamu gak ngerasa kesepian karna hal itu?"
   putri tak langsung menjawab. dia sedang berfikir. merasa kesepian tidak, karena tentu saat ini dia sedang bersama asad, cowo yang dia kagumi secara diam-diam. tapi melewati sore hari tanpa candaan dan tawa evan tentu semuanya menjadi terasa sepi. sorakannya yang memekakkan telinga, kata-katanya yang asal, tingkah lakunya yang acuh tak acuh... namun tak lupa juga akan sikap melindungi nya yang dia rasakan tiap berada di sisi evan. dia selalu merasa aman. entah apa sebabnya. tapi yg pasti, walau hanya terpisah seperti ini tentu itu sesuatu yang amat besar bagi putri.
   asad memperhatikan putri. dia tahu benar bahwa cewe di sampingnya itu tengah merasa kesepian. namun bingung bagaimana mau mengakuinya karena khawatir disangka memiliki rasa pada evan.
   "kalo iya, gapapa kok put." tebak asad langsung.
  "eh?" putri kaget. sontak rona wajahnya memerah dan dia langsung menunduk karena takut asad menyadari itu.
   "maksud aku, kalo emang kamu ngerasa kesepian gini. kamu gak usah takut buat ngakuin. siapa tau, dengan kamu jujur bisa bikin orang yang mau temenin kamu jadi lebih relaks karena satpam yang biasanya jagain kamu lagi gak ada. hehe." seloroh asad untuk menghilangkan kegrogian putri yang tentunya berhasil membuat senyum terukir di bibir putri.
   "apa si, sad? aku biasa aja kok. ya...namanya udah terbiasa bareng kalo kepisah gini pasti ada kan rasa kesepiannya. tapi kan, temen-temen di kelas sama di sekolah banyak. jadi, banyak juga yang nemenin aku kaya kamu gini." jawab putri sambil tersenyum.
   "jadi, aku sama kaya temen-temen yang laen ya?"
   "yap!" jawab putri yakin.
   "ohh...padahal aku udah berharap lebih dari sekedar itu lho."
 deg! jantung putri tiba-tiba terasa mencelos dari tempatnya. setelah mendengar kata-kata asad tadi, putri mengerti maksud itu. namun dia tidak mau besar kepala sebelum mendapat pernyataan yang lebih jelas dari asad tentang kata-katanya tadi. jadilah putri memasang tampang bingung yang kemudian diikuti kata-kata, "maksud kamu?"
  asad hanya menatap putri. begitu lembut. begitu dalam. putri sendiri bingung harus bersikap seperti apa. namun dia merasa tidak dapat mengalihkan pandangannya dari asad. karena asad seperti hendak menyampaikan sesuatu padanya.
   "put, sebenernya..." asad kembali menarik napas. well, apa yang akan dia lakukan saat ini tentunya sangat tidak mudah. terlalu banyak pikiran negatif yang berkelebat dalam pikirannya membuat rencananya malam itu menjadi terhambat. namun putri masih menunggu. itu berarti dia harus menyelesaikan kata-katanya saat itu juga. "aku gak tau aku mulai ngerasain ini sejak kapan. tapi, kalo liat kamu sama evan..." asad berhenti sejenak untuk menarik napas lagi. oke, keadaan di warung bu susi ini terasa seperti dalam kadar oksigen yang sangat rendah. "aku selalu berharap kalo aku lah yang ada di posisi evan. pulang bareng kamu. bikin kamu ketawa. ngeledekin kamu tanpa takut kamu marah atau terluka."
   asad diam. putri tetap menunggu.
   masih menunggu, tetapi asad tak kunjung bicara.
   "jadi?" tanya putri dengan suara yang begitu perlahan untuk menarik asad agar melanjutkan kata-katanya.
  asad memantapkan niatnya lagi dalam hati. satu.. dua.. tiga.. "aku suka sama kamu put. kamu mau gak jadi pacar aku?"
  deg (lagi) jantung putri di buat loncat dari tempat yang seharusnya. kini putri tidak tau bagaimana lagi tampangnya tapi yang pasti dia sangat syok dan tidak siap dengan pernyataan ini.
  tapi, asad tidak. dari kesulitannya dalam berkata-kata tadi, putri melihat ketakutan dalam mata asad. ketakutan akan dilukai. maka dari itu, putri akan terus meyakinkan dirinya bahwa apa pun yang terjadi, dia harus selalu siap.
   lima menit berlalu tanpa suara dari keduanya. putri masih meyakinkan diri, dan asad pun masih menenangkan diri setelah pengakuannya tadi. dia tak tau kenapa tapi dia merasa sangat gugup tadi. mungkin karena yang dia hadapi adalah putri, gadis istimewa dihatinya, jadinya seperti ini.
   pesanan telah tersedia. mereka makan, selesai dengan semua pesanannya, kemudian mereka pulang. di sepanjang perjalanan tidak ada yang bersuara satu pun. putri masih meyakinkan diri. asad sudah agak tenang tapi dia juga tidak akan mendesak putri untuk menjawabnya.
   tiba di depan gerbang rumah putri. mereka berdua turun dan asad mengantar putri sampai teras rumahnya.
   "makasih ya buat sore ini." kata asad tulus.
   putri masih tak mampu bersuara dan tetap menundukkan wajahnya di depan asad.
   "oke, kalo gitu aku pulang dulu ya. good night." kata asad lagi.
  namun, ketika asad sudah berbalik dan hendak melangkahkan langkah pertamanya, dia merasa ada yang menarik lembut pergelangan tangan kirinya. asad berbalik untuk memastikan siapa yang menahannya. namun dia agak terkejut. setelah bertanya dengan kening yang berkerut dan hendak mengucapkan "ada apa", putri langsung mendekatinya dan memeluknya dengan erat.
  putri tidak mengatakan apa-apa untuk beberapa saat. namun setelah menyadari asad yang tidak kunjung bereaksi, putri pun mengucapkan sesuatu dengan suara yang pelan, "tolong jaga aku baik-baik ya."
   ya. hanya itu. hanya itu yang putri ucapkan dan asad mengerti bahwa putri menerimanya. seribu bunga bermekaran dalam hati asad. dia hanya membalas pelukan putri dengan mengelus sayang kepala kekasihnya itu.  kini satu pasangan lagi telah resmi pada malam ini. malam yang tenang. malam yang sunyi. dan malam yang begitu berarti bagi dua insan yang kini masih berpelukan untuk menyampaikan rasa sayang satu sama lain.
   dan benar saja, disetiap pertunjukkan di panggung sandiwara ini pasti ada penonton yang memperhatikan adegan tersebut dengan sesama. dan dia adalah... evan.

Minggu, 07 Desember 2014

Panitia Pensi???

   keesokan harinya.
   "putri..."
   "iya. eh, evan. masuk dulu, van."
   "oke, makasi."
   "gimana keadaan lo?" tanya evan sambil memegang kening putri sekilas.
   "eh? alhamdulillah baik-baik aja kok. semalem gue udah minum obat dan istirahat cukup. jadi, sekarang badan gue udah fit lagi deh. hehe" balas putri sambil tersenyum manis ke arah evan.
   "oh... bagus deh kalo gitu. emm... oh iya, put. kemaren ternyata asad sadar sama kondisi lo yang nggak fit. tapi, gara-gara takut ganggu istirahat lo jadinya dia sms gue semalem dan nanyain keadaan lo. terus dia juga nitip salam buat lo, sorry gak bisa kasih tumpangan kemaren. soalnya dia lagi buru-buru, gitu." jelas evan panjang lebar sambil melihat ke arah dapur. kenapa dapur? -_- soalnya dia gak berani buat liat langsung tampang putri waktu itu.
   "put? lo dengerin gue kan?" masih menghadap ke dapur. "put? PUT???" seru evan sekali lagi sambil membalikkan badan. daaaan wak waaaw dilihatnya putri sedang shock tingkat dewa dengan ekspresi yang sulit di jelaskan dengan kata-kata. mulutnya terbuka lebar buanget! evan yang udah nyangka kejadiannya bakal kaya gini cuma bisa menghela napas.
   "e.. elo.. se.. serius kan, van? dia ngomong gitu?!" tanya putri.
   "iya." jawab evan malas-malasan.
   "yippie.... aaaakkk... gue tau kok saat ini bakal dateng juga. uh...makasi buat infonya evan. lo emang sahabat gue yang paling cakep sedunia!" seru putri kegirangan sambil berlenggak-lenggok memutari evan.
   "yaiyalah, paling cakep! orang sahabat lu cuma gue!" jawab evan ketus.
   "oiya ya? hehe yaudah, maap deh. tapi intinya lo emang orang terbaik yang pernah gue kenal."
   "emm... gue pengen beli ke eleven-seven nih, lu mau nemenin gue gak?" jawab evan mengalihkan pembicaraan.
   "eh? kayanya nggak deh, van. gue masih pengen istirahat dirumah." jawab putri pelan karena merasa tidak enak.
   "oh gitu. yaudah, gue jalan dulu. hati-hati ya. lo cuma sendirian kan disini?"
   "iya. gue bakal jaga diri dan kunci semua pintu dengan rapat kok."
   "well, see ya!"
   "bye." balas putri sambil melepas kepergian evan dengan senyum khasnya.
   aaaaaaaarrrrrrrrrggggggghhhhh!!!! tinju evan mengenai tembok luar rumah putri begitu keras dan menyakitkan. namun tetap saja, tidak ada yang mampu menandingi sakit di hatinya saat ini.

***

   "put... put... si rena nawarin gue jadi panitia nih."
   "eh? rena yang anak seni itu?"
  "iya. dia katanya mau ngadain pensi kecil-kecilan buat sekolah kita gitu. nah, jadinya dia minta tolong gue deh buat jadi salah satu panitianya."
   "oh ya? panitia apa emang?"
   "emm... bagian acara katanya si."
   "wow! bagian acara? gila. itu kan bagian yang keren banget, van. sumpah, lo harus total banget buat acara ini biar lo gak ngecewain rena yang percaya ama lo."
   "eh? tapi tugas ini berarti bakal menyita waktu gue banyak, put. termasuk buat pulang-pergi bareng lo."
   "ha? emang iya ya?"
   "iyalah. kan pasti butuh banyak kordinasi ke berbagai pihak dan rapat ini itu buat konsep acara. menurut lo gimana? perlu gue terima?"
   putri terdiam dan menunduk.
   nah, kayanya nih anak agak mempertimbangkan kalo bakal balik sendirian tanpa gue dan ngeliat gue bakal lebih sering berurusan sama rena deh. hihihi putri.. putri.. gue gak bakal berpa...
   "lo boleh terima kok!" jawab putri.
   "HE?"
   "iya. kenapa kaget gitu? pasti rena seneng bisa dibantuin kamu. lagian kamu lumayan kreatif dan seru kok van buat ngatur acara-acara kaya gini. hehe" jawab putri pelan sambil menampakkan ekspresi yang tenang luar biasa. dan evan hanya bisa bengong.
   "eh! kenapa bengong? cepet gih samperin lagi renanya. kasian kan kalo dia sampe kelamaan nunggu."
   "elo... elo serius ngebolehin gue ikut ini? nanti berarti kita jarang pulang bareng lho."
   "iya, gapapa. kalo lo seneng gue juga ikut seneng kok. hehe."
   put.. put... lo gak tau ya kalo gue pengen banget lo larang ikut panitia ini. gue pengen lo sedikit membatasi ruang gerak gue sama orang lain.
   "oh iya, van. aku mau ke perpustakaan dulu ya. ada buku yang harus aku pinjem buat bacaan selama weekend ini. aku duluan ya. inget! jangan lupa bilang ke rena kalo kamu terima tawaran itu." kata putri sambil tersenyum dan berlalu meninggalkan mejanya.
   "oke." jawab evan lesu.

***

   kring... kring... kring...

   "sorry, ada evan?" terdengar suara dari arah pintu yang menarik perhatian anak-anak kelas XII 2.
   "eh, rena. ada noh. masuk aja." kata rico, ketua kelas XII 2.
   "boleh masuk nih? gue tunggu diluar aja deh. tapi tolong sampein kalo gue tungguin dia ya."
   "oh. sip deh."
   rico pun berjalan ke arah bangku belakang tempat evan merapikan tasnya.
   "van..."
   "iya, gue tau." potong evan dengan nada jutek.
   "yeee...dibantuin malah galak. nyesel gua!"
   evan pun tak banyak bicara dan langsung melenggang pergi meninggalkan rico dan teman-teman yang lain dengan isi pikiran yang sama. kenapa evan?

***

   pulang sekolah ini, putri benar-benar pulang sendirian. evan yang biasanya selalu menemaninya kini sudah mulai sibuk rapat pensi yang akan diadakan kurang lebih dua minggu lagi. karena merasa kesepian, putri pun tidak fokus melihat ke jalan dan secara tidak sengaja menabrak seseorang.
   "eh? sorry. sorry." kata orang tersebut.
  "eh, iya. gapapa kok. seharusnya aku yang minta maaf. soalnya..." penjelasan putri pun terhenti seketika setelah melihat siapa yang barusan dia tabrak.
   "eh, putri?"
  "iya, sad. sorry, aku nggak sengaja." kata putri pelan. mendadak saja wajahnya menjadi merah padam.
   "gapapa. tumben sendirian. evan mana?"
   "dia lagi sibuk jadi panitia pensi. persiapin pensi sekolah bareng rena. jadi sekarang dia lagi rapat ini itu deh di ruang osis."
   "oh gitu. jadi kamu pulang sendiri nih? waah, bahaya loh kalo cewek pulang sendirian jalan kaki gini. mau bareng?"
   "ah? se.. seriusan van?"
  "iya, seratus rius malah. hehe" jawab asad ringan dengan senyum manis diwajahnya.
  "eh...tapi kan rumah kita nggak searah, sad. kemaren kita kebetulan ketemu karena aku sama evan mau ke warung bu susi."
   "oh iya, warung bu susi! mau coba mampir dulu kesana nggak?"
   "eh??" putri tambah bingung.
   "tenang aja. ntar aku yang traktir."
   putri diam. bukan. bukan karena di malas berbicara lebih lanjut dengan asad. tetapi, jantungnya sudah berdegub kencang sedari tadi dan kakinya pun terasa lemas. ajakan itu terdengar seperti mimpi di telinga putri.
   "gimana, put?" tanya asad lagi yang mulai tak sabar. "hmm...biasanya kata orang-orang kalo seorang gadis diam itu berarti tandanya iya. nih." kata asad sambil memberikan helm khusus penumpangnya kepada putri.
   "eh? boleh deh kalo gitu." putri menerima helm itu sambil tersenyum.
   setelah memakainya dengan baik, dia pun naik ke atas motor asad dan mereka langsung melaju ke warung bu susi.
   namun tak disangka. sebenarnya dari tadi evan telah membuntuti putri dari ruang kelasnya. melihat semuanya dan mendengar semua pembicaraan antara putri dan asad.
   dia tidak mengikuti rapat persiapan pensi sekolah di ruang osis. bukan, bukan karena dia izin sakit atau semacamnya. tapi dia khawatir kalo membiarkan putri pulang seorang diri akan terjadi apa-apa dengan putrinya yang cantik itu. jadi, dia meninggalkan rapat tersebut secara ilegal. namun sayang, saat dirinya mau memanggil putri, asad sudah duluan berbicara dengan putri. dan evan tau kalo dia muncul sekarang hanya akan menghancurkan saat bahagia putri.
   baru saja evan akan melanjutkan perjalanan, tiba-tiba sesorang menepuk pelan pundaknya. karena kaget, evan pun berteriak yang membuat orang tadi ikutan kaget dan kemudian keduanya berteriak bersama-sama.
   "aakkk..."
   "aakkk..."
   "loh, evan?"
   "eh, rena."
   "lo kemana aja tadi? gue udah nyariin elu kemana-mana sebelom rapat."
   "sorry ren, gue gak bermaksud ninggalin tugas. cuma gue..."
   "gue paham kok van."
   "eh?"
  "pasti gak segampang itu kan ngelepas putri balik sendirian begitu aja." kata rena pelan sambil menunduk. "mangkanya tadi lo kabur dan buntutin putri buat tau apa dia baik-baik aja atau nggak. hehe" kata rena lagi kini sambil tersenyum ke arah evan.
   evan menghela napas berat.
   "iya, ren. sorry banget ya." kata evan benar-benar menyesal.
   "iya. nyantai aja si. gak usah minta maaf terus. udah kaya suasana lebaran aja. haha. eh, udah sore banget nih, gue balik dulu ya. tar keburu malem gue nyampe rumahnya. bye." kata rena sambil berjalan berbalik arah.
   "eh, ren?"
  "ya?" jawab rena yang menengok lagi ke arah evan setelah berjalan beberapa langkah.
   "rumah lo dimana?"
   "di daerah palung."
   "palung? buset jauh banget itu mah. lo yakin masih ada kendaraan umum jam segini?"
   "ya...nggak yakin-yakin banget si. tapikan kita gak bakal tau ada kendaraan atau nggak kalo kita nggak nyoba." kata rena masih sambil tersenyum.
   "kalo gitu, gue anterin lo deh."
   "eh? seriusan nih? ntar ngerepotin lo lagi. lagian kita beda arah dan ini udah sore banget."
   "gapapa. anggap aja sebagai bentuk permintaan maaf gue. lagian ortu gue juga pasti bakal paham kalo gue pulang malem gara-gara gak tega ngebiarin cewek pulang sendiri ke rumahnya waktu sore gini. gimana?"
   "eh? boleh kalo gitu."
  rena dan evan pun kembali ke parkiran untuk mengambil motor evan. selama perjalanan, rena tak kuasa untuk menyembunyikan senyum bahagia di wajahnya. baginya, saat itu adalah saat terindah dihidupnya yang tak akan pernah dia lupakan.

***

Sabtu, 06 Desember 2014

Aku, Kamu, dan Sebotol Minuman

   kring... kring... kring...

   "yeaaay... akhirnya pulang juga. yok, Put! kita ke masjid!"
   "oke deh, tapi gue beres-beresin barang gue dulu yak."
   "cepetan tapi. kayanya langit mendung pengen ujan deh."
   "iya.. iya.."
  Putri pun mempercepat geraknya. setelah memasukkan semua barang-barang bawaannya kedalam tas, dia langsung melesat keluar gedung sekolah untuk menyusul Evan yang sudah menunggunya diluar gerbang.
   "nah, ayok!"
   "he'eh" angguk putri sambil lalu.

***

   "nah, mau kemana nih kita sekarang?" tanya putri setelah mereka sholat jama'ah di masjid sekolah.
   "eng... gak tau yak. tapi gue pengen beli sesuatu nih."
   "beli apaan?"
   "ini lho. persediaan bubur carelak gue abis."
   "jiaaah... ternyata bubur bayi. gue kira apaan. terus gimana? lo mau beli sekarang?"
   "emm... tapi dimana ya? masih pake baju sekolah nih. geraaah."
   "iya juga sih. yaudah, jadi mau balik dulu nih?"
   "iya deh. lah, tapi, emang elu mau ngapain juga, put?"
  "ya... gue pengen nganterin lu aja. hehe lagian, gue bosen kalo balik sekarang dan gak ngapa-ngapain di rumah." jawab putri sambil melihat ke langit yang mulai menjatuhkan tetes-tetes airnya.
   "oh gitu. yaudah deh. yok! keburu deres ujannya."
   "he'eh" angguk putri lagi.

***

   "putri... put... gue duluan ya."
   "eh, evan. yah... kenapa nggak bareng gue aja?"
  "ada abang gue di rumah. dan kata bonyok gue, mending gue di anter aja dari pada jalan. lebih cepet dan biar abang gue yang anti matahari itu seenggaknya kena matahari walopun cuma 5 menit." jawab evan sambil menunjukkan 5 jari tangan kanannya.
   "hahaha dasar! ada-ada aja. yaudah gapapa deh kalo gitu."
  "oke, jangan kangen aku yaaaah. byeeee." saut evan sambil berjalan menjauh dan melayangkan kiss bye tulusnya ke putri.
   "huweeeek" ledek putri sambil berpura-pura mual karenanya.

***

   keesokan harinya.
   "hey, put. gimana kemaren? lo nggak nangis meraung-raung gara-gara gua gak jadi pergi bareng lo, kan?"
   "apa? gue gak salah denger, van? ya lebih, laaah. gue ampe pengen gila gara-gara lo tinggalin gue sama kiss bye menjijikkan lo itu, tau?"
   "hahaha. dasar putri manja..." jawab evan sambil mencoret-coret buku mtk putri yang sedang dia pelajari di atas meja.
   "ih... apaan si! rese tau, gak!" sewot putri sambil beranjak pergi bersama buku-bukunya keluar kelas.
   tanpa disadari, seutas senyum tengah menghiasi wajah evan.

***

   kring... kring... kring...

   "putri cantik... masih ngambek ya sama pangeran?"
   putri hanya diam.
   "ya ampun. cuma gara-gara di coret doang bukunya sampe se-marah ini? oke, gue harus ngapain deh biar lo mau ngomong sama gue lagi."
   putri tetap diam.
   "put.. put.. PUT!!!"
   "apaan si?!"
   "gue tuh dari tadi ngomong sama elu. elu kenapa si diemin gue gini?"
   "biar lo tuh tau rasa! lagian jadi orang ngeselin banget! tau gak, buku itu tuh aku jaga sepenuh hati. eh seenak jidat kamu aja malah maen corat-coret sana sini. emang kamu kira, belinya pake daon apa yang bisa tinggal ngambil di pohon pinggir jalan. lagian ya, seharusnya kamu tuh.... "
  evan menunggu. ya gini nih si putri kalo udah ngambek. pas ditanyain baik-baik, malah diem. harus dikerasin emang. tapi giliran udah dikerasin, beeeeeh...nyerocosnya panjang lebar banget udah kaya kereta.
   "oke, fine. aku minta maaf. aku bisa apa deh biar kamu nggak marah lagi ke aku?"
   "rubah sifat kamu yang suka coret-coret buku orang sembarangan!"
   "iya.. iya... insyaAllah aku janji gak bakal iseng coret-coret buku kamu lagi. kecuali kalo khilaf. hehe"
   "ih... tuhkan masih gak serius!!! bodo, gak mau aku maafin!!"
  "adududuuuuh... iya, iya, putri yang cantik nan manis nan jelita... maafin pangeran yang iseng ini ya. pangeran janji deh, gak iseng lagi. tanpa kecuali!! suwer!" seru evan sambil mengacung kan jari telunjuk dan jari tengahnya sambil senyum lebar.
   "hmm... okey. permintaan maaf diterima!" jawab putri sambil mengedipkan sebelah matanya.
   cantik.
  "nah, gitu dong. yaudah, sebagai bukti kalo gue bener-bener menyesal, pulang sekolah gue traktir di warung bu susi deh. dan lo boleh pesen apaaa aja yang lo mau disana. gimana?"
   "hah? bener nih? asyik... okesip! cuss~"
   "heeey putri cantik... jadwal pulang sekolah masih lima jam lagi tuh. emang kalo sekarang kamu mau kemana putri nan cantik dan manis dan jelita???" seru evan sambil menarik pelan tas punggung putri.
   "eh? pulang sekolah yak? hehe gue kira sekarang." alasan putri sambil tersenyum polos ke arah evan yang masih memegangi tasnya.
   manis.
   "huh.. dasar makan mulu yang dipikirin! gendut lho entar."
   "nggak bakal. lagian, kalo pun gendut juga gapapa kok. pasti lucu." jawab putri sambil menerawang ke langit-langit kelasnya dan terkekeh ringan.
   "wooooo..." dan sebuah bantal kecil melayang ke wajah putri.

***

   kring... kring... kring...

   "yippie... it's time for bu susi!!! yeaaah~" sorak putri dengan begitu semangat setelah bel berbunyi dan pak guru meninggalkan ruang kelas.
   "eh kenapa lo put? semangat bener denger bel balik doang?" tanya vira, teman sebangku putri.
   "iya dong. soalnya gue pengen jajan sepuasnya nih!" jawab putri dengan tambah bersemangat.
   "waaah... jajan sepuasnya? ko bisa? gue ngikut dong kalo gitu..."
   "eh? emm..."
   "ayo, put! keburu ujan loh entar!" teriak evan dari luar pintu kelas.
   "oalaaah... sama pangeran lo itu toh. yaudah, gak jadi ngikut deh gua."
   "yaaah... kenapa nggak jadi, vir?" tanya putri lesu dan merasa tidak enak.
   "nggak apa-apa. haha. nyantai aja. gue biasa aja ko. cuma gua gak mau aja jadi obat nyamuk diantara kalian berdua entar selama disono. hehe udah ya. gue balik. byeee"
   "he? apanya yang jadi obat nyamuk??? ih... vira gaje deh." balas putri sambil memanyunkan bibirnya satu senti ke arah punggung vira yang menjauh.
   "heh, putri manja! ayo. ditungguin malah manyun-manyun sendirian didalem kelas. eh? lo gak kambuh lagi kan?" tanya evan.
   "ha? kambuh apa maksud lo?"
   "kambuh lagi gilanya. weeek. hahaha"
   "ih... nggak evan nggak vira, dua-duanya gaje semua! nyebelin!!! awas kamu ya, vaaan." seru putri sambil mengerjar evan yang sudah melaju jauh ke arah gerbang.

***

   hosh..hosh..hosh

   "ternyata capek juga ya lari-larian sepulang sekolah gini. udah laper, keringetan lagi! ih... bete!!!" eluh putri di sepanjang jalan menuju warung bu susi.

   "ya lagian elu si, pake ngejar-ngejar gua segala. gua tau lo ngefans ama gue. tapi seenggaknya kalo di sekolah tuh ya mbok biasa aja toh. gak usah pake ngejar-ngejar gue gini."
   "uh..." bales putri yang tak punya tenaga lagi bahkan hanya untuk berbicara.
   "eh, put? lo kenapa, put? lo baik-baik aja kan?" tanya evan panik melihat putri yang terduduk di sebuah bangku kayu di tepi jalan didepan sebuah warung kecil yang agak tidak terawat.
   "eh? gue baik-baik aja ko, van. tapi pala gue udah pusing banget. gue gak kuat jalan lagi kalo udah kaya gini."
   "yaaah put. terus gimana? warung bu susi masih lumayan. masa lo mau nunggu disini terus gue beliin ke warung bu susi sih? kan gak mungkin."
   "eh? yaudah, jajannya kapan-kapan lagi aja hehe" jawab putri yang sudah begitu pucat di bagian bibir dan wajahnya.
   "put? lo pucet banget. lo yakin gak apa-apa?"
   "nggak kok, van. tenang aja."
  setelah duduk lumayan lama tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut mereka, sebenernya perasaan evan sudah dag dig dug menunggui keadaan putri membaik. dia sangat panik saat melihat wajah putri yang tadinya ceria lalu berubah pucat dan lemas sekali saat berbicara dengannya. namun kemudian, keadaan putri berangsur-angsur membaik. atau setidaknya, tidak se pucat yang tadi.
   "van, sorry ya gara-gara gue kita gak jadi jajan ke warung bu susi."
   "yaudahlah, gapapa. lagian juga keadaan lo lagi kaya gini. kalo gue disuruh milih. udah pasti gue bakal lebih ngedahuluin kesehatan lo duluan lah dibanding warung bu susi itu." ceramah evan panjang-lebar.
   "hehe" 

   brum... brum... ckiiit...

   sebuah motor berhenti di dekat kursi kayu mereka. kemudian, si pengendara tadi turun dari motornya sambil membuka helmnya.
   "eh... evan, putri. ngapain kalian disini?"
   "weh, asad. kaga ngapa-ngapain kita, lagi nyantai aja nih. baru balik latihan lo?" jawab evan segera untuk mengalihkan perhatian asad pada kondisi putri saat itu.
   "iya. lomba tingkat provinsi udah tinggal bentar lagi. itu berarti tim sekolah kita harus latihan lebih keras lagi dari biasanya."
   "oh iya ya. bentar lagi. sekitar tanggal berapa deh tuh lomba?"
   "tanggal 20 desember, di glora bung kasno. kalian berdua dateng dukung ya." kata asad sambil menunjukkan senyum manisnya.
   "iya, sad." kali ini suara putri. "kita pasti bakal dateng!" seru putri sambil meloncat berdiri dari kursi kayu itu.
   perasaan tadi dia lemes daaah, gerutu evan dalam hati.
   "hahaha. sip deh. nih, mau nggak?" tanya asad sambil menyodorkan sebotol minuman isotonik kepada putri.
   "eh? apa? bu.. buat aku?" tanya putri tergagap.
   "iya." jawab asad sambil tersenyum manis.
   "ta.. tapi, ntar buat kamunya gimana?"
   "loh, ini. kan aku masih ada yang satu lagi." jawab asad sambil menunjukkan botol yang satunya.
   "beneran nih?"
   "iya."
   "ma..makasi." jawab putri sambil agak tersipu.
   asad hanya mengangguk-angguk membalas ucapan terima kasih dari putri dan melenggang ke atas motornya lagi untuk pamit.
   "kalo gitu, gue balik duluan ya."
   "oke, hati-hati ya." seru evan yang ternyata semenjak tadi tengah menahan napasnya. sesak.
   "sip. kalian juga hati-hati. byeee" asad pun pergi bersama motornya. melaju. membelah kesunyian senja di sepanjang jalan Karya yang mulai sepi itu.
   evan tidak berani menengok ke arah putri. tidak tahu kenapa. pasti yang dilakukannya ini akan...
   "van? kita pulang yuk." ajak putri yang sudah terlihat sangat sangat mendingan dari sebelumnya. dilihatnya botol minuman dari asad ditangannya telah berkurang seperempat.
   "eh? ayok." jawab evan sambil tersenyum tipis kepada putri.

***

Selasa, 14 Oktober 2014

Apa sih perintah pertama Bung Karno setelah terpilih menjadi presiden RI???

Oktober 2014, adalah bulan yang dimana kita tahu akan diadakan pelantikan orang nomor satu di Republik kita tercinta ini. setelah pemilihan penuh kontroversi. pembully-an dari tiap-tiap pendukung terhadap lawan pilihannya. dan berbagai sumpah serta nazar yang terucap entah sepenuh hati atau tidak jika jagoan pilihannya terpilih atau sebaliknya, akhirnya pada bulan ini tepatnya tanggal 22 Oktober 2014 akan dilantiklah secara resmi Presiden RI 2014-2019, Bapak Joko Widodo beserta wakil presiden, Bapak Jusuf Kalla.

Selain itu, kita juga mengetahui tentang pemilihan ketua-ketua baru untuk DPR dan MPR yang tergolong "tidak nyantai" dari berita di koran maupun di internet. ya, begitu banyak pemilihan ketua-ketua penting akhir-akhir ini. yang kemudian setelah terpilihnya mereka kita berharap akan keadaan Indonesia yang akan menjadi lebih baik dan baik lagi. dan beberapa diantara kita juga pasti membayangkan perayaan pelantikan tersebut dengan pesta mewah, kunjungan sana-sini, mengundang Bapak ini, mengundang Ibu itu, mengundang artis ini, mengundang artis itu, dan sebagainya. namun, pernahkah terlintas dalam benak kalian barang sekali, bagaimanakah perayaan pelantikan presiden pertama RI?? apakah perintah pertama presiden pertama RI setelah pelantikannya?? apakah juga diadakan pesta meriah oleh rakyat? atau...dijemput dengan mobil mewah pada saat itu? atau...mengundang Bapak, Ibu, dan artis ini-itu???

Tidak.

Ya, jawabannya adalah tidak. karena perintah pertama yang Bung Karno keluarkan seusai "pelantikan" itu adalah "Sate ayam 50 tusuk!".

***

18 Agustus 1945, seusai rapat kedua PPKI atau pengesahan UUD 1945, terjadilah penunjukan secara langsung oleh Otto Iskandar Dinata pemimpin pertama Indonesia yang tidak di interupsi maupun di sanggah oleh siapa pun dalam ruang sidang itu. tersebutlah Soekarno sebagai presiden dan Hatta sebagai wakil presiden.

Setelah pengucapan terima kasih oleh Bung Karno karena telah diberi kepercayaan oleh semua peserta sidang dan disambut tepuk tangan, berdirilah semuanya dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Indonesia, tanah airkoe
Tanah toempah darahkoe
Disanalah akoe berdiri
Mendjaga Pandoe Iboekoe
Indonesia kebangsaankoe Kebangsaan tanah airkoe Marilah kita berseroe “Indonesia Bersatoe”
Hidoeplah tanahkoe
Hidoeplah neg’rikoe
Bangsakoe, djiwakoe, semoea
Bangoenlah rajatnja
Bangoenlah badannja
Oentoek Indonesia Raja

Setelah pelantikan sederhana itu, Soekarno pun pulang ke kediamannya di Jl. Pegangsaan Timur No. 56 dengan berjalan kaki. tanpa penjagaan apalagi bodyguard. di tengah perjalanan, Bung Karno bertemu dengan seorang tukang sate "dengan ceker ayam tanpa baju" yang kemudian mengeluarkan perintah pertamanya sebagai presiden RI: "Sate ayam 50 tusuk!".

Karena tidak ada kursi, Bung Karno pun berjongkok dipinggir got kemudian menyantap sate ayamnya dengan lahap dan beginilah presiden pertama RI dalam merayakan pengangkatannya sebagai kepala negara.

***

Begitulah kisah yang diceritakan Soekarno dalam "Penyambung Lidah Rakyat" karya Cindy Adams yang diterbitkan Yayasan Bung Karno pada tahun 2007.

Lihat betapa bahwa pelantikan atau pengangkatan bukanlah sesuatu yang harus selalu disambut dengan pesta meriah atau panggung tinggi, tapi dengan jiwa kepemimpinan yang mantap, kesederhanaan pun terlihat lebih berharga dari semua harta.

http://astridputrinda.blogspot.com/2013/06/wajah-ir-soekarno.html

Terima kasih :D

Sumber ide: 1cak.com

Kamis, 25 September 2014

"Pidato" Review - Bung Karno, Berilah Isi Kepada Hidupmu



"Benar, selama 350 tahun Indonesia memang telah memberikan darahnya bagi hidupnya bangsa lain. Penjajah menjadi gemuk, kita menjadi kurus-kering. Di luar dugaan mereka, rakyat yang kurus-kering ini, – rakyat yang mereka sebutkan “het zachtste volk der aarde ” , “rakyat yang paling lemah-lembut di dunia”, rakyat yang begitu lama mereka tunggangi namun toh menurut saja, rakyat yang begitu sering mereka labrak dengan pecut namun toh tidak melawan -, di luar dugaan mereka, rakyat kurus kering ini bangkit berdiri serentak sambil berkata: ”Stop! Sampai di sini, – kita merdeka, kita tidak mau dijajah lagi!”

Berilah Isi Kepada Hidupmu - Kutipan salah satu  pidato mengagumkan Bung Karno yang beliau bacakan pada HUT RI ke-11 di Jakarta.


Pidato ini merupakan salah satu dari sekian pidato Bung Karno yang berhasil saya temukan di internet. Cukup sulit memang, tapi untunglah pada akhirnya tulisan ini dapat saya buat.
Well, pidato ini menarik perhatian saya. Pada awal pidato, Bung Karno memberikan kesan awal yang berbeda dibandingkan pembukaan-pembukaan pidato yang saya tahu pada umumnya. Pesan yang disampaikan pun menurut saya begitu dalam. Penggambaran amat cantik nan dalam betapa hebatnya, betapa kuatnya, dan betapa dahsyatnya rakyat Indonesia dalam memperebutkan kemerdekaan Indonesia membuat saya tertegun saat membacanya. Bagaimana Bung Karno tidak hanya sekedar memberi pidato, tetapi juga menguatkan dan menegaskan bahwa apa yang telah rakyat Indonesia perjuangkan untuk Indonesia selama ini tidak akan sia-sia.

Disela-sela pidatonya pun, Bung Karno tidak segan menyampur baur kan bahasa asing yang dia kuasai. Yang dimana menurut saya semakin bertambah menarik penyampaian pidato ini dan membuat pendengar memberi perhatian lebih karena ada rasa "penasaran" dengan arti dari bahasa asing itu.

Kata-kata pengunggah semangat di awal pidato saya rasa berhasil sangat sukses dalam menyedot perhatian para pendengar dengan sempurna. Ketika membacanya pun saya sebenarnya agak merasa enggan dengan gangguan di kanan-kiri saya. Tapi apa mau dikata, kali ini saya bukan sedang mendengarkan presiden RI yang berpidato sehingga tak seorang pun boleh mengganggu saya. Namun pada akhirnya saya katakan, ya saya sedang membaca pidato presiden kebanggaan bangsa Indonesia.

Dalam pidato ini, Bung Karno tidak hanya mengambil satu pokok bahasan dalam pidatonya. Tergantung dengan “topik yang lagi ngehits” kalo kata saya. Dimulai dari pembatalan KMB, panca dharma, pemilihan umum, pembahasan pembebasan Irian Barat, hubungan pusat daerah, dan sebagainya yang menurut saya merupakan salah satu cara beliau dalam mempertahankan perhatian pendengar.

Best quotes:
"Ya, Agustus 1945; Republik Indonesia pada waktu itu dalam pandangan dunia satu pertanyaan, satu question-mark; dalam pandangan Belanda satu umpan-ganyangan yang akan dapat digaglak lagi dalam beberapa hari atau beberapa pekan. Sekarang Agustus 1956: Republik Indonesia dalam pandangan dunia satu potensi berharga dalam susunan inter-nasional, dalam pandangan Belanda satu “taaie kost”, satu “makanan alot”, yang tak dapat digaglak begitu saja! Ya, katakanlah keuangan Indonesia belum beres, katakanlah produksi belum maju, katakanlah administrasi belum sempurna, katakanlah pendidikan belum teratur, katakan, katakan apa saja yang orang mau katakan, tetapi toh, 80.000.000 rakyat Indonesia pada saat ini merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaannya yang kesebelas, Hari Ulang Tahun Republik dalam Dasa-Warsa yang kedua!

I love that word :)

Next quote:
"Siapa itu puluhan juta manusia yang berduyun-duyun tempo hari ke tempat-tempat pemungutan suara dalam pemilihan-umum? Siapa itu laki-laki yang antri di sinar matahari, siapa itu wanita yang menggendong anak? Mereka adalah si Tani, dan di muka mereka berdiri pula si Tani. Dan di belakang mereka juga si Tani. Mereka datang mengeluarkan suaranya tentu dengan harapan di dalam kalbunya, bukan untuk sekadar “memilih” saja. Harapan mereka itu, dalam Negara kita ini, harus segera dipenuhi. Indonesia sekarang bukan lagi Indonesia jajahan. Indonesia sekarang adalah Indonesia yang telah merdeka dan berdaulat, dan, Indonesia sekarang adalah Indonesia yang demokratis, Indonesia yang berkerakyatan. Alangkah baiknya jika Parlemen kita sekarang … bukan hanya parlemen.. Semua kita, baik Parlemen, maupun Pemerintah, maupun partai-partai."


itulah sedikit ulasan tentang pidato Bung Karno yang berhasil saya temui. Tak terbaca semua karena sangat-sangat-amat-panjang dan kurang-saya-mengerti :)

well sekian dari saya. Terima kasih. Thank you. Syukron!!:D


Dengan bicara saja kita tak dapat membangun Negara dan Masyarakat.
"Met praten alleen bouwt men geen land!"

Special thank for: http://strez.wordpress.com/buku-blog-gratis-anticopyright/dibawah-bendera-revolusi-2/dibawah-bendera-revolusi/rahasia/berilah-isi-kepada-hidupmu/ ;))